“Merindu Hujan (Bagian 3)” merupakan tulisan ketiga (terakhir) Group 11 dari #RantaiCerita #3Penguasa yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bogor. Tulisan pertama yang ditulis oleh @IndahJuli (http://bit.ly/L75gsn) dan kedua oleh @mbitmbot (http://bit.ly/JHDnd). Dan inilah akhir ceritanya...
——
“Bangku kecil di bawah pohon mahoni, di Bukit belakang Rumah Sakit Harapan. Jelang senja. Ahad, seminggu dari hari ini.”
Aku memandangi lagi pesan yang kau tinggalkan seminggu yang lalu. Akhirnya aku mendapatimu, Kayla. Senja dan Hujan memunculkan namamu di mesin pencari ajaib itu.
Kayla, kamu dimana? Harus berapa lama lagi aku menunggumu? Hujan sudah hampir turun, senja hampir pergi dan langit-pun mulai kehilangan cahayanya, tapi bayangmu belum juga muncul, kecuali di dalam benakku. Kamu dimana wahai Kayla?
“Ayunda..”
Suara datar itu mengagetkan lamunanku. Aku segera menoleh ke arah sumber suara.
“Kayla?”
Kulihat sesosok wanita di depan. Kayla? Kaukah itu? Wanita terindah yang selama ini aku rindukan bersama hujan. Kulihat wanita itu tersenyum manis ke arahku.
“Wow Kayla.. is that you?”, wanita itu mendekat dan segera duduk di sampingku. Bangku mungil di puncak Bukit Harapan.
“Hai..”, sapanya. “Hai Ayunda.. wanita pencinta senja.”
“Kayla?”, aku masih tidak percaya dengan wanita yang kini ada tepat disampingku. Wanita dengan setelan blazer hitam yang begitu rapi dan wangi. Wanita itu lalu tersenyum mengangguk. Ah benar dia Kayla.
“Hai.. bagaimana kabarmu Ayunda? Masih suka memandang hujan dan menungguinya hingga reda? Masih suka mengirimkan rindumu kepadaku lewat setiap rintiknya? Kepada hujan! Hujan yang sama-sama kita cintai. Masih suka berlari keluar ruangan hanya untuk menghirup bau tanah pertama yang terjatuhi air hujan? Bau khas itu. Aku masih, Ayunda!”, Kayla beranjak dari duduknya. Berjalan beberapa langkah ke depan. Dipandangnya rumah sakit di bawah Bukit Harapan ini. Mataku tak pernah bisa lepas dari paras cantiknya. Wanita yang aku cintai diam-diam.
“Balkon Rumah Sakit itu tak banyak berubah rupanya. Pun dengan bangku silver itu. Posisinya pun masih tetap sama dengan ketika pertama kali kita bertemu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?”, Kayla menoleh ke arahku. Pandanganku buyar akan pertanyaannya. Dia tersenyum heran. “Ayunda?”
“Hmm.. emm.. Lima.. Lima tahun, Kayla.. emmm… Sejak 2007. Iya tahun 2007 yang lalu. Lima tahun. Selama itu kamu menghilang. Selama itu kamu meninggalkan aku tanpa kabar.”, jawabku dengan terbata.
“Wow, lima tahun! Dan balkon itu masih tetap sama..”, dia kembali menatap balkon Rumah Sakit Harapan tepat di depan bawah Bukit Harapan ini.
“Well Ayunda.. bagaimana kabarmu? Kamu bilang sudah menikah kini? Siapa lelaki beruntung itu? Oh bagaimana kamu bisa mencapai puncak Bukit Harapan ini? Lelakimu merawatmu dengan baik rupanya.. Lelaki beruntung! Haha aku pikir kau mencintaiku, Ayunda. Hahahaha..”, dia tertawa lepas.
Aku hanya bisa memandanginya. Yes me!, iya aku Kayla. Aku mencintaimu. Apakah kau tahu itu? Aku mencintaimu Kayla. Kali ini aku mati rasa. Aku hanya bisa memandang kagum ke arah Kayla, wanita yang selama ini aku rindukan.
“Lalu untuk apa kamu memintaku menemuimu? Kamu serius dengan ucapan yang telah kau sampaikan seminggu yang lalu?”, dia menoleh menatapku.
Matahari mulai redup, senja menghilang. Seketika langit menghitam, petir mulai bergemuruh meramaikan bumi. Bumi menghitam. Di puncah Bukit Harapan ini, kini hanya ada aku dan Kayla. Perasaanku begitu berantakan.
“Oke. Kita bersama saling membelakangi. Aku hitung sampai tiga, lalu kita saling berhadapan dan… … kau mengerti?”, Kayla kembali menengok menatapku. Aku mengangguk. “Oke. Mari kita mulai. Berbalik badanlah!”, Kayla memerintahku.
“Kayla..”, aku berucap lirih.
“Iya, ada apa?”, aku menggeleng cepat. “Oke, balikkan badanmu!”, kita sama-sama membalikkan badan.
“Satu….”, rintik hujan mulai turun ke bumi.
“Dua…”, rintik demi rintik mulai memberondong keras tanah di bumi. Dan seketika deras. Hujan. Hujan yang sama-sama kita cintai. Hanya hujan dan kita, kini..
“Tiga!”, kita sama-sama membalikan badan dan berhadapan. Secara perlahan tangan Kayla meraih pipiku. Kayla mendekatkan bibirnya ke bibirku. Kita berciuman. Bibir kita saling beradu di bawah hujan.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
….
Lima menit…
“Kayla!! Aku tidak merasakan apapun. Tidak. Tidak sama sekali Kayla!”, kataku girang. Dengan tubuh yang sama-sama menggigil kita saling menatap. Kayla tersenyum padaku. “Aku tidak merasakan apapun Kayla.”, aku masih tersenyum, lebih lebar kali ini. Aku tertawa. Aku bahagia. Kayla berjalan meninggalkanku. Sekali dia menengok ke arahku, Kayla tersenyum.

Aku berjalan terseok kembali ke arah Lobi Rumah Sakit Harapan. Aku melihat Tegar bergegas menghampiriku.
“Hum.. kenapa kamu basah kuyup seperti ini? Kamu kenapa? Terapi berjalan baikkan? Ayunda, apa kamu baik-baik saja sayang?”, Tegar segera melepaskan jaketnya dan segera dibalutkannya ke tubuhku yang sudah terasa kaku ini.
Tegar terlihat begitu kuatir memandangku, dari atas hingga ujung kakiku. Dia memelukku, sedetik kemudian dia memandangku. Dengan mata teduhnya, pria yang selama ini aku cintai tidak lebih dari Kayla, menatap mataku dalam. Aku meraih tubuhnya. Aku mendekapnya. Dekapan paling erat untuk pria yang telah menyayangiku sepenuh hatinya. Aku mendekapnya erat.
“Hei Tegar.. Aku mencintaimu! Terikamasih untuk semuanya, sayang.. Aku mencintaimu.”
-end-
@Anggarief : Kita saling mematahkan sayap.. Apa agar kita tak bisa saling meninggalkan? Salah!, agar kita bisa tau, siapa yang duluan menyerah.
@nilaayu : Kalaupun aku yang terlihat kalah, aku bukan sedang menyerah. Aku hanya lelah mengepakkan sayap sendiri untuk sebuah nama, ‘Kita’.
@Anggarief : Tidak ada yang kalah ataupun menang. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sayap kita sama-sama terbakar, habis. Rusak sudah, ‘Kita’.
@nilaayu : Rapuh sudah ragaku untukmu. Jiwapun kehilangan senyawanya. Di sudut dunia, ku lihat kaupun sirna. ‘Kita’ pun musnah ditelan luka.
@Anggarief : Dari dulu, kita hanyalah sebuah kata. Ego menghapus makna. Akhirnya kita hancur, lebur bersama tetesan airmata. Kita, berakhir sudah.
@nilaayu : Ego meraja melukai cinta yang pernah kita punya. Salah siapa? Kita tergerus tanya. Pun tak pernah ada satu titik semesta menjawabnya.
@Anggarief : Tak penting bukan, siapa yang salah? Apakah begitu penting bagimu merasa benar di atas kesakitanku? Bila begitu caramu mencintaku, terkutuklah cintamu.
@nilaayu : Kalaupun berhak, aku akan mempersalahkan takdir. Bukan kamu ataupun aku. Dua senyawa yang dipersatukan untuk kemudian dihancurkan. Tragis!
@Anggarief : Benarkah itu salah takdir? Itu salah kita. Takdir mempertemukan, ego kita yang menghancurkan.
@nilaayu : Benar!, salahkan ego. Ego kita yang tak pernah mengalah. Ego yang tak hanya menghancurkan ‘kita’, tapi juga jiwaku, dan mungkin juga milikmu. Ironis!
@Anggarief : Kita saling menghancurkan, bahkan dalam diam. Kelak kita akan menyesal, melihat luka yang teramat kelam yang tersisa dari masing-masing kita.

@nilaayu : Kianati otak! Kibarkan bendera hati. Tentu saja luka demi luka akan menganga. Tapi itulah tiket utama menjadi sebuah kondisi, ‘Bahagia’.
.. another duet with @Anggarief
@nilaayu : Aku kehilangan sayap, kemudian napas. Sesaat setelah kamu membalikkan jiwa menjauh dariku.
@Anggarief : Kau tak tau? Sayapku berjatuhan saat berpaling darimu, aku terjatuh dalam neraka kehidupan.
@nilaayu : Teriakan raga terdalampun tak mampu membuatmu membalikkan badan. Serupa mati rasa. Dan kini aku benar-benar hancur.
@Anggarief : Kau hancur, aku lebur. Kita saling melengkapi. Hanya kita menolak untuk menerima kenyataan itu, bukan?
@nilaayu : Kita saling melengkapi kehancuran jiwa. Saling acuh. Tak ada lagi yang dulu kita sebut ‘Cinta’. Hanya ego berkuasa.
@Anggarief : Bukankah itu yang sama-sama kita perjuangkan sejak dulu? EGO!, bukan kita. Jadi biarkanlah, akhirnya kita habis termakan ego kita.
@nilaayu : Ego menjadi pemenang. Cinta seketika semu dan mendadak sirna. Saling menyakiti kemudian menghancurkan. Antagonis yang sempurna.
@Anggarief : Peran masing-masing kita untuk menjaga ego meraja. Cinta hanyalah kata di depan ego yang membabi buta. Antagonis? Pilihan kita, bukan?
@nilaayu : Semesta memenangkan Ego kita! Bukan takdir, tapi kita. Kini, acuhmu mencabik hati perlahan. Sakit tak terperi.
@Anggarief : Kita sama acuhnya kepada ‘Kita’. Bukankah kita yang memilih ego dan saling meninggalkan? Cinta hanya kata, bagi kita.
@nilaayu : Tak ada lagi kita. Nadi teriris ego yang tajam melebihi parang. Kenangan-pun sirna terbawa luka.
@Anggarief : Kenangan tetap ada.. Ah, mungkin hanya akan jadi ingatan. Menjadi ampas dari kebodohan yang ego ciptakan secara perlahan.
@nilaayu : Bersepakat untuk menjadi bodoh. Menempatkan ego di atas pelukan hangat kita, dulu. Rindupun sirna.
@Anggarief : Memang, kita hanya manusia rendah pemuja ego! Saling menjatuhkan, hanya untuk menyelamatkan nama di hadapan dunia.
@nilaayu : Sebodoh itukah kita? Dua nyawa yang saling mengacuhkan, kemudian menghancurkan! Sebegitu hinakan kita? Manusia pemuja ego!
@Anggarief : maka biar, kita saling menghancurkan agar tak bersisa dalam pikiran masing-masing kita. Seperti cinta yang digerogoti masa.
@nilaayu : Serupa aku ingin menghancurkanmu hingga tak bersisa. Tak hanya bayangmu, bahkan cintaku kepadamu yang bersisa semu.
@Anggarief : Mengubur kamu dalam nisan kenangan. Membangun sebuah rumah diatas tanah pemakaman, ‘Ego’! yang biasa aku sebut kesendirian.

@nilaayu : Tak ada lagi senja kita, hujanpun terbawa masanya. Tangis mengering sejalan ego kita. Kini hanya ada aku, bukan kita.
@Anggarief : Sejak awal, senja memang bukan milik kita, bukan milik orang yang jatuh cinta pada ego masing-masing. Senja bukan milik ‘Kita’.
@nilaayu : Ego mengakhiri cerita kita. Aku sebut ini awal. Kuatkan sayap!, tanpamu aku hebat. Pun denganmu..
@Anggarief : Benar!, kita memang sudah kuat dari awalnya, kita sudah saling menghancurkan di detik pertama kita saling bertatap mata.
@nilaayu : Detik pertama tubuh kita saling berpeluk, detik kesekian ego kita siap menguasai cerita. Hati dan logika berjajar di belakang.
@Anggarief : Itu hanya segelintir dari pasukan yang bersiap. Cinta kita adalah medan perangnya. Hubungan kita adalah sumbunya.
@nilaayu : Ego membiarkan diri ini menjadi pembohong hebat. Rindu terkubur rapi di dada. Dan itu tetap kamu. Hanya aku yang tahu.
@Anggarief : Sayangnya senja sudah tidak perduli. Hanya harap dan mimpi kini yang menyelimuti rindu dalam balutan pelangi.
@nilaayu : Aku. Kamu. Dan kini, tiada lagi kita. Ceritaku untukku, hidupmu untukmu.
.. #penggalauansoresore with @Anggarief
| Her : | Hi there.. |
| Him : | Hi.. |
| Her : | Remember about Aqmal? Bagaimana kabar Aqmal ya? |
| Him : | Oh well, Aqmal baik. Dia dirawat sama neneknya. |
| Her : | Super kid. Is he happy? |
| Him : | InsyaAllah happy. Walau doanya masih sama. |
| Her : | Sama? Hmm apa dia merasakan kebahagiaan seperti yang kebanyakan anak miliki ya? |
| Him : | Iya dia sampe sekarang masih berdoa supaya Ibunya hidup lagi. Gak tau apakah dia merasakan kebahagiaan itu.. Yang jelas dia sudah merasakan kesedihan yang paling dalam saat kehilangan sosok Ibu. Tapi dia anak yang kuat kok.. Bukannya dihibur, dia malah berusaha menghibur orang lain. Orang yang lebih tua malahan. Ayahnya juga.. |
| Her : | Yes!, him. Kesedihan saat saya harus kehilangan kamupun gak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang Aqmal rasakan. That's life! Tidak ada yang benar-benar kurang. Hanya kita saja yang kurang bisa bersyukur. |
| Him : | Maksudnya? |
| Her : | When I was a little girl, and I saw many beautiful mature girl, then I said to my self that I want to be that girl. Adult girl with a beautiful make up and dress. In that time, just think that being her is so cool. But now, when I grow up already. I was wrong. Life not as a simple as I think before. |
| Him : | Yes, that's life. |
| Her : | Oh well, sorry for all bad things that you've felt caused by me. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Bukan cinta juga namanya kalo dipaksakan. Haha. Glad to know you.. |
| Him : | Iya glad to know you too.. |
“Impian Semu Rukiyah (Bagian 2)” merupakan tulisan kedua Group 10 dari #RantaiCerita #3Penguasa yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bogor. Tulisan pertama telah dibuat @mbitmbot - http://bit.ly/JHmFaS dan yang ketiga akan ditulis @wkf2010. Selamat menikmati.
——
Pandangannya menerawang lurus keluar jendela. Menatap satu persatu lampu jalanan yang tak seberapa terang. Langit begitu gelap sore ini. Teringat detik demi detik sebelum dia menginjakan kaki di Bus yang penuh sesak ini.
“Maaf Mbok,.. Tapi aku harus pergi! Mohon doanya. Tolong jangan kuatirkan aku. Aku akan baik-baik saja.”
Tangis yang sedari tadi tertahan, akhirnya pecah di mata Mbok Sariyem. Ditatapnya anak semata wayangnya, anak yang begitu dicintainya, dan kini harus pergi meninggalkannya sendiri.
“Aku pergi dulu.. . Assalamualaikum.”
Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik.. Dan kemudian bayangan Mbok Sariyem dan Kang Darto pun lenyap tertelan asap Bus yang mengepul.
Sepanjang jalan Rukiyah hanya bisa terdiam. Pikirannya kosong. Sedetik kemudian Rukiyah menatap kembali pesan dalam ponsel barunya. Pesan dari Dayu memantabkan hatinya untuk menuju ibu kota. Hasrat dan cita-cita untuk meraih kesuksesan di ibu kota telah mengalahkan tangis emak. Pertengkaran hebat antara dia dan Mbok Sariyem telah memenangkan keinginannya untuk bekerja di ibu kota.
Kamu akan sampai di Terminal Pulo Gadung kira-kira jam 6 Sore. Nanti aku akan menjemputmu. Hati-Hati.
Salam,
Dayu.
Senyumnya tersunggih sempurna. Inilah cita-citaku. Tak banyak dan cukup sederhana!, aku hanya ingin bekerja di Kota. Aku akan memiliki uang yang banyak. Dan Mbok? Beliau tak perlu lagi bekerja dengan getah pisang. Pikirannya melayang-layang indah.

Terminal Pulo Gadung
“Akhirnya…”, Rukiyah tertawa kecil.
1 jam lagi sampai. Aku akan menunggumu di selatan Terminal, tempat kedatangan penumpang.
Dilihatnya kembali pesan terakhir dari Dayu.
“Hei cantik… Sendirian aja?!”, dengan sigap Rukiyah mendekap koper lusuhnya. Beberapa pria bertattoo memandangnya genit. Beberapa lainnya mencoba menggandengnya.
“Mau kemana cantik? Sini abang anterin. Buat Neng mah abang kasih murah.”, sontak dilepaskannya tangan pria yang sedari tadi menggenggam lengan kanannya.
“Maaf mas.. Tidak. Saya sudah ada yang menjemput.”, Rukiyah mempercepat langkahnya meninggalkan gerombolan pria-pria itu.
Jam sudah menunjukan angka 8. Bayangan Dayu belum juga muncul. Rukiyah mulai kehilang tenaga. perutnya melapar. Rukiyah berjalan lemas menuju warung makan di ujung terminal. Dipesannya mie instant dan air putih. Menu paling murah.
Dayu, dimana kamu? Aku ada di warung ujung terminal. Aku akan menunggumu.
Salam,
Iyah.
Ini sudah jam 9. Rukiyah mulai gelisah.
“Iyahhh…”
“Iyahhhhh….”
Rukiyah mencari sumber suara. Ternyata Dayu. Akhirnya Dayu. Dayu berlari gontai ke arahnya.
“Dayu…”, sambut Rukiyah.
Dayu terjatuh tepat di depan Rukiyah. Terlihat lebam di sekujur tubuhnya, pun memar menghias wajah manisnya. Tangis membuat matanya sayu memerah. Dayu begitu berantakan. Dan Rukiyah? Dia hanya bisa menatap iba sahabatnya itu.
“Dayu.. Kamu? Kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Kamu kenapa Dayu?”, tanya Rukiyah tak sabar seraya didekap tubuh mungil sahabatnya. Tubuh yang saat ini sungguh tak berdaya.
“Aku lari dari rumah majikanku. Mereka kejam Iyah„ sama seperti Kota ini..’, jawab Dayu sambil menahan kesakitan.
Bersambung…
——
Cerita ini belum selesai. Simak kelanjutan cerita “Impian Semu Rukiyah (Bagian 2)” yang akan ditulis oleh Wong Kam Fung aka @wkf2010 dan bisa dibaca disini http://bit.ly/JHmk80.
“Stasiun Kota, Senja Itu…” merupakan cerita pertama grup 09 dari #RantaiCerita #3Penguasa yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bogor. Grup 09 akan diawali oleh cerita dari saya kemudian berturut-turut dilanjutkan oleh @wkf2010 dan @yoszca. Cerita ini bermula pada….
——
Senja itu. Kembali aku menyeruput kopi yang mulai dingin yang sedari tadi kugenggam. Pun aku kembali melirik secarik kertas di tangan kiriku.
“Stasiun kota. Senja pukul 5. Bangku biru di ujung ruangan. Seminggu dari sekarang. Aku akan membawamu pergi ke suatu tempat yang telah kita impikan bersama. Hanya akan ada aku, kamu dan masa depan kita.
Aku yang luar biasa mencintaimu,
Fin.”
Dua jam telah berlalu. Tak nampak sedikitpun bayangmu. Gundah dan gulana berpedar sempurna memenuhi seluruh rongga dadaku. Sesak mulai terasa begitu kuat. Sakit!
Sekarang pukul 7. Stasiun mulai lenggang, hanya tersisa beberapa orang yang lalu lalang. Beberapa menatapku iba.
“Fin, kamu dimana? Fin, cepatlah datang. Aku mulai gelisah, apa kamu baik-baik saja Fin? Ayahku tidak melakukan hal buruk padamu kan sayang? Percepatlah langkahmu Fin!”
Langit sudah sangat gelap. Kepalaku juga mulai pening. Bayangan dua bulan yang lalu muncul.
“Dasar keparat! Beraninya kau dekati putriku! Kamu itu punya apa anak muda? Pergi!”, sedetik kemudian tamparan ayahku mendarat di pipi kananmu. Aku pilu. Saat itu, aku hanya mampu menatap kesakitan yang kau rasakan dari balik jendela kamarku..
“Kamu jangan pernah lagi berhubungan dengannya! Pria kere seperti dia bisa apa? Kamu mau makan apa besok? Rumput? Ayo masuk!”, amarah Ayah semakin menjadi.
Kejam! Kejam sekali Ayah pemabuk itu berkata kepadamu. Padahal dia sendiri lebih keparat, menjual puterinya pada anak orang kaya agar bisa tetap mabuk-mabukan. Aku geram, aku merindukan kamu Fin.
Teng.. Teng.. Teng..
Dentingan jam raksasa di tengah-tengah stasiun mengagetkan lamunanku. Pukul 8, satu jam lagi kereta berangkat. Oh.. aku coba melihat kedepan stasiun. Mungkin kamu ada di depan sana. Fin….
Aku mulai tak tenang. Aku benar-benar berantakan, sama dengan kertas berisi pesan indahmu untukku, yang sekarang sudah sangat kumal di genggamanku. Aku mulai berdiri, kemudian duduk kembali. Berfikir, “Apa mungkin Fin menyerah? Apakah dia tak lagi ingin memperjuangkan ‘kita’? Kumohon sayang, jangan menyerah.. Bawa aku kemanapun kamu mau. Asalkan bersamamu, aku pasti bahagia.”
Pukul 9. Kereta terakhir akan segera berangkat. Tubuhku benar-benar tanpa daya sekarang. Fin!, dia belum juga muncul. Apakah ini artinya sebaiknya aku pasrahkan nasibku seperti yang Ayah inginkan? Harapanku tak kunjung datang.

Aku menghela napas panjang. Kutegakkan badanku. Langkah demi langkah lunglai menapak lantai meninggalkan bangku biru di ujung stasiun Kota ini.. Air mata yang sedari tadi tersimpan rapi oleh hatiku, kini tak terbendung lagi. Tetes demi tetes aku seka. Berusaha tegar. “Semoga kamu bahagia, sayangku. Cintaku akan selalu menyertaimu. Mungkin sudah seharusnya aku mengubur semua mimpi indahku bersamamu, Fin…”
Bersambung…
——
Cerita ini belum selesai. Simak kelanjutan cerita “Stasiun Kota, Senja Itu…” yang akan ditulis oleh Wong Kam Fung aka @wkf2010 - http://bit.ly/JHmUCS dan cerita terakhir oleh @yoszca - http://bit.ly/K2mwTx.
